Judul diatas saya dapatkan ketika di kota saya sedang dilaksanakan seminar tentang Keluarga Sakinah, dengan pembicara bunda Astri Ivo. Memang sih sebenarnya saya nggak datang ke seminar itu hi..hi.., lebih tepatnya saya hanya membaca makalahnya saja sedangkan yang menghadiri seminar tersebut adalah saudara saya.
Terus terang saya sangat tertarik untuk memikirkan dan merenung lebih jauh lagi bahwa mendidik anak adalah sebuah karir, yang saya tahu selama ini istilah karir bagi seorang wanita hanyalah karir dalam pekerjaan, karir dalam jabatan, dan karir dalam sosial kemasyarakatan. Tak terbersit sedikitpun bahwa istilah karir itu ternyata bisa dipakai dalam rumah tangga.
Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa saat ini banyak wanita yang ingin menjadi wanita karir. Alasan mereka bermacam-macam, ada yang ingin membantu suaminya tuk mencari penghasillan tambahan, ada yang ingin memanfaatkan gelar pendidikan yang telah diraihnya dengan susah payah, ada yang karena bosan di rumah karena tidak ada kegiatan lain selain "mengurus rumah tangga" dan lain-lain. Dan ketika seorang wanita telah memutuskan tuk menjadi wanita karir, maka saat itu juga ia telah siap dengan berbagai konsekuensi yang bakal diterimanya, termasuk membagi waktu antara pekerjaan, suami dan anak. Inginnya sih bisa seimbang antara karir dan rumah tangga. Tapi prakteknya selama ini akhirnya anaknyalah yang akhirnya dinomorduakan. Dan sebagian dari mereka menganggap bahwa ketika anak sudah mendapatkan pendidikan yang bonafide, pendidikan yang mahal (kalau perlu sekolah yang bermutu internasianal) maka mereka tak perlu lagi bersusah payah mengajarinya di rumah. Dengan kata lain buat apa saya repot-repot ngajarinnya lagi kan udah sama gurunya disekolah, saya aja banyak pekerjaan dikantor.
Saya sangat tidak setuju jika pendidikan anak hanya tertuju pada pendidikan formal dan informal seperti sekolah-sekolah, kursus-kursus ataupun yang semacamnya. Justru pendidikan anak yang jauh lebih mengena adalah ketika kita sebagai seorang ibu, berkenan mendidik anaknya di rumah juga, karena pendidikan dirumah bisa diberikan kepada anak-anak kita sejak usia dini dengan penuh rasa kasih sayang, seperti mengajari mengaji, wudhu dan sholat, mengajari cara bersopan santun terhadap orang lain, mengajari cara menyelesaikan masalah secara sederhana, dan lain sebagainya.
Pada minggu-minggu yang lalu, ustadzah-nya Nina (anak saya yang baru berumur 3,5 tahun), sharing kepada saya, beliau mengatakan begini, "Waah bun, mba Nina hebat loh kalo' ngaji disekolah lancar sekali, trus do'a-do'a juga cepat hafal, sepertinya si Nina ini cepat sekali menyerap pelajaran ya bu, begitu diajarin eh, langsung bisa".
Namun saya tidak langsung mengiyakan bahwa anak saya memiliki daya serap yang bagus, karena setiap sehabis sholat maghrib saya rutin mengajarinya mengaji Iqro, kalo' disekolah ia sampai jilid 1 dan ustazahnya mengatakan kalo membacanya lancar sekali, saya rasa itu sangat wajar ya, lha wong di rumah ia sudah sampai iqro 2. Kalau disekolah dia cepat menyerap hafalan do'a itu juga sangat wajar, karena di rumah ia sudah hafal duluan..hi..hi...
Mengajari anak di rumah bukanlah semudah membalikkan telapak tangan, butuh kesabaran dan ketekunan yang tinggi agar anak kita tidak mudah bosan, tidak merasa terpaksa dan mau mendengarkan apa yang telah kita ajarkan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi mood si kecil ini seperti, apakah dia sedang lapar, sedih, sakit atau bahkan dia sedang bermain dengan teman-temannya. Hal-hal seperti itu mau tidak mau harus tetap kita perhatikan kalau tidak, bukan pelajaran yang didapat justru yang ada si anak malah marah-marah.
Tapi percayalah ibu, kalau semua itu kita lakukan dengan ikhlas, dengan senang hati dan dilakukan secara kontinu, bukanlah hal yang sulit kalo' akhirnya anak kita sendiri-lah yang minta diajarin oleh kita, bukan atas paksaan kita. Tentunya sebagai orangtua kita juga harus memberi keteladanan terlebih dahulu. Bagaimana ibu, do you agree with me? ok, deh kalo' gitu sekarang kita praktekin ya.....Bismillahirrohmanirrohiim.
Minggu, 13 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
artikelnya bagus bu Nina... selamat belajar nulis ya!
BalasHapus